CeritaPendekku

Marco menatap Jendra dengan tatapan kosong dan kuyu . Ia ingin menghentikan apa yang berkecamuk diotaknya semenjak Jendra menelponnya dan menangis sambil bercerita tentang kepedihan hidupnya tiga malam yang lalu . Berbagai pertimbangan dan keraguan mulai muncul dibenak Marco. Tapi dia berusaha memaksa buah pikirannya untuk tetap fokus . Ia lalu menatap lagi pada Jendra yang sudah mulai mabuk . Parasnya masih menyiratkan aura kecantikan . Tapi dahi dan pipinya tidak sanggup menutupi kalau usianya sudah mulai tua. Ia terdiam saja mendengar ocehan Jendra yang kadang – kadang diselingi tawa . Entah apa yang dia ucapkan atau apa yang ia tertawai . Terhitung kira – kira sudah hampir satu bungkus batang rokok mampir ditangan kusamnya sejak mereka duduk bersama . Dan Marco masih tetap tidak tahu atau mendengar dengan jelas apa yang Jendra bicarakan .

Jendra tersadar kalau Marco memperhatikan tingkah lakunya yang mungkin aneh . Ia lalu menatap ke mata Marco , dihisapnya rokok yang tinggal seperempat batang sebelum ia mulai tersenyum kecil dan berujar ,
” Marco kekasih sejatiku¬† , mengapa kau terdiam…kamu teringat masa lalu kita ? ”
Marco hanya menjawab dengan senyum tipis , namun matanya menyiratkan jika Marco sebenarnya ingin berkata lebih dari sekadar senyuman . Tapi ada bongkah batu besar yang seperti menahannya untuk berbicara .
” Atau kau merasa aku sudah tidak semenarik seperti dulu ya ..sampai kamu memandangiku seperti itu .. ” tanya Jendra dengan manja .
Kali ini dia berbicara sambil mendekat dan mengelus – elus paha Marco . Sejenak kemudian , Jendra lalu menyandarkan kepalanya pada bahu tipis Marco . Tangannya masih tetap terus bergerak – gerak . Mencoba memancing dengan nakal . Tapi Marco masih tidak meresponnya , ia hanya mencoba berpaling sambil menatap rambut dan batok kepala Jendra yang terlihat botak untuk ukuran wanita . Benaknya semakin berkecamuk dengan hebat .

Ketika Jendra mendongakkan kepalanya dan memandang penuh harap pada Marco , barulah Marco tersentuh . Ia merasa kepalanya tiba – tiba pusing . Kilasan – kilasan masa lalu datang silih berganti . Bahagia … sedih… perih … kata – kata indah … cacimaki … umpatan … teriakan penuh sayang… dan yang lain datang bagaikan roll film yang diputar dengan kecepatan tinggi .

Sampai sebuah momen yang sangat kuat dimemorinya tiba – tiba berhenti , tepat saat Marco hendak menarik nafas panjang akibat sesak otak yang ia alami . Momen itu berhenti dan bergerak melambat seperti kibasan kain dari seorang matador dalam film aksi yang diperlambat hingga 10 kali dari kecepatan aslinya .

Seketika itu juga Marco mulai menunjukkan reaksinya , ia sentuh dengan lembut wajah Jendra dengan bahu telapak tangannya . Diusapnya semua bagian wajah perempuan itu . Jendra membalasnya dengan tatapan yang semakin sendu . Marco kemudian membenamkan kepala perempuan yang pernah dicintainya itu kedalam pelukannya dengan penuh rasa sayang . Jendra terlihat seperti anak ayam yang kembali dalam pelukan induknya . Ia pun merajuk manja . Marco kemudian membalas rajukan itu dengan menciumi kepala Jendra dengan penuh rasa sayang yang lebih dalam . Jendra memejamkan matanya , ia ingin menikmati momen ini lebih lama .

Sedetik kemudian ….. Dhuar….. Dhuar….

Satu dua letusan terdengar menyalak dari arah dua insan yang sedang berpelukan itu . Mata Jendra terbelalak . Tidak jelas antara kaget karena timah panas yang tiba – tiba merangsek paksa tubuhnya atau merasa kesakitan kala malaikat dengan kasar mencabut ruhnya dari tubuh yang mulai keriput itu . Marco membalasnya dengan tatapan serta raut gamang.. ia merasa tiba – tiba area matanya penuh dengan air . Ia memejam – mejamkan matanya , mencoba untuk menahan agar air matanya tidak sampai lebih deras lagi mengucur . Tubuh Jendra ia dekap lebih erat lagi . Marco seakan hendak menunjukkan jika ia tidak akan meninggalkan Jendra sampai semua proses menyakitkan itu berlalu . Saat tubuh Jendra hendak mengejang untuk terakhir kalinya … dengan bola mata yang kian berair Marco mengucap lirih….

” Aku pernah berjanji untuk membebaskanmu dari kepedihan hidup … maafkan baru sekarang aku bisa menepatinya … pergilah merpati yang patah sayapnya … jalani kehidupan lebih baik di alam sana …tinggalkan dunia yang tak lelah melukaimu ini “

Bersamaan dengan hentakan terakhir , bayangan gadis bersayap patah yang tersirat di kepala Marco selama bertahun – tahun belakangan mulai menghilang . Senyum pun terlihat tergurat diwajah gadis itu . Menghapus tatap mata dan raut wajah kosong yang selama ini berdiam disana . Saat bayangan itu hendak sepenuhnya hilang , ia tersenyum pada Marco dan melambaikan tangannya. Marco pun tertunduk lemas .

Malam itu …. Marco telah menepati janjinya pada Jendra seperti yang pernah ia sumpahkan 20 tahun yang lalu kala mereka masih jadi sepasang kekasih . Walaupun dengan cara yang lain , Marco benar – benar telah membebaskan Jendra dari kesemrawutan , kekotoran , frustasi , rasa lelah , perendahan diri , pencampakan , hinaan , umpatan , kemaksiatan ,serta ketidakmampuan untuk lepas dari belenggu kekacauan yang didapatkan semenjak ia dan Marco berpisah dan memutuskan untuk jadi pelacur


  • None
  • satriaxxx: secepatnya wan...yang berikut pasti tambah heboh...
  • satriaxxx: ha...ha....iyo yo..ga tahu rodho dark iki gowoanne..thanksbro
  • irawan: mana cerita yg lain pren....ditunggu cerpen2 yg mengejutkan lainnya...

Categories

Archives